Safari Ramadan 1446 H di Masjid Dhiyaausyams, PDM Kota Pekalongan Soroti Isu Ranting dan Masjid
Pekalongan – Safari Ramadan 1446 H PDM Kota Pekalongan di Masjid Dhiyaausyams pada Senin malam, 3 Maret 2025, menjadi pembuka rangkaian agenda Ramadan sekaligus ruang refleksi mengenai dinamika Persyarikatan di level akar rumput. Kegiatan perdana ini berhasil menyoroti berbagai persoalan strategis yang tengah dihadapi Persyarikatan dalam konteks pembinaan jamaah dan penguatan struktur organisasi. Para peserta yang hadir tampak antusias mengikuti rangkaian acara, mulai dari kajian, dialog, hingga penyampaian laporan kondisi lapangan.
Dalam kesempatan tersebut, PCM Pekalongan Timur menyampaikan sejumlah isu yang berkembang di wilayahnya. Salah satu sorotan utama adalah keberlangsungan eksistensi Ranting Muhammadiyah, yang belakangan menghadapi tantangan regenerasi, keterbatasan kader aktif, serta adaptasi terhadap perubahan sosial di masyarakat. Penguatan ranting kembali ditekankan sebagai fondasi penting bagi kokohnya struktur organisasi Muhammadiyah, mengingat ranting menjadi titik awal pelayanan dan dakwah di tingkat komunitas.
Selain soal ranting, keberadaan dan vitalitas masjid-masjid Muhammadiyah juga menjadi bagian dari pembahasan utama. Masjid sebagai pusat dakwah perlu mendapatkan perhatian serius agar tetap mampu menarik minat jamaah dan menjadi ruang kegiatan keagamaan yang hidup. Pembenahan manajemen, peningkatan kualitas imam dan khatib, serta penguatan aktivitas keumatan menjadi rekomendasi yang muncul dalam dialog tersebut. Hal ini sejalan dengan upaya menjaga peran masjid sebagai episentrum gerakan amar makruf nahi munkar.
Isu lain yang turut mengemuka adalah penguatan sumber daya mubaligh Muhammadiyah. Ketersediaan mubaligh yang berkompeten dan merata di seluruh wilayah Pekalongan Timur masih menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan perhatian. Para peserta Safari Ramadan menekankan perlunya sistem kaderisasi mubaligh yang lebih terstruktur, sekaligus peningkatan kapasitas dalam bidang komunikasi dakwah, literasi keagamaan, dan pemahaman isu-isu kontemporer agar para mubaligh dapat menjawab kebutuhan umat secara lebih relevan.
Safari Ramadan ini juga menyoroti pentingnya optimalisasi pengelolaan Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) di wilayah Pekalongan Timur Pekalongan Timur. Potensi ZIS yang cukup besar dinilai belum sepenuhnya terdorong untuk mendukung program pemberdayaan masyarakat. Melalui diskusi ini, muncul komitmen untuk memperkuat koordinasi antar lembaga dan memaksimalkan peran amil agar ZIS benar-benar menjadi instrumen penguatan ekonomi umat. Kegiatan Safari Ramadan pun ditutup dengan harapan agar semua isu yang mengemuka dapat ditindaklanjuti dengan langkah konkret sepanjang tahun, bukan hanya menjadi catatan musiman semata.